Bismillahirrahmanirrahim.
Pembaca yang dirahmati Allah SWT. Sebelum lanjut ke topik Latihan surat-surat pendek yang lain, kita istirahat sejenak dengan melihat apa bedanya antara bahasa kita dengan bahasa Arab. Saya hanya sekedar sharing pengalaman belajar bahasa Arab dalam beberapa bulan ini.
Ternyata semakin dipelajari, semakin kita yakin mengapa bahasa Arab itu dipilih sebagai bahasa Al-Quran. Oh… ya, frekuensi penulisan mungkin agak berkurang, karena kesibukan saya saat ini didalam beberapa project.
Oke… baiklah. Apa sih hebatnya bahasa Arab? Tanpa banyak teori, mari kita lihat saja contoh berikut. Saya akan buat dua kalimat dalam bahasa Arab, yang jika kita terjemahkan kedalam bahasa kita, terjemahannya persis sama.
يا أيها المؤمنون - yaa ayyuha almu’minuun : hai orang-orang beriman
يا أيها الذين آمن – yaa ayyuha alladzina aamanu : hai orang-orang beriman
Keduanya diterjemahkan sama dalam bahasa kita. Ya, bahasa kita tidak bisa menangkap beda keduanya. Padahal dalam bahasa Arabnya, kedua kalimat diatas ada bedanya.
Kalimat pertama, kata al-mu’minuun, artinya orang-orang yang beriman. Kapan berimannya? Ya tidak dijelaskan, bisa kemaren, bisa sekarang, dll. Sedangkan dalam kalimat kedua, kata-kata alladzina aamanu, artinya juga “orang-orang beriman” tetapi ini sifatnya orang tersebut saat ini sudah beriman, dan dia mulai berimannya di masa lalu. Dalam bahasa Arab, kata aamanu disebut fi’il madhy (KKL).
Ahli bahasa Arab, menggolongkan kalimat yang mengandung KKL itu hampir identik dengan kalimat sempurna dalam bahasa Inggris (Past Perfect Tense, atau Present Perfect Tense). Artinya kata kerja tsb telah sempurna selesai dikerjakan. Biar gak bingung saya kasih padanan bahasa Inggrissnya:
يا أيها المؤمنون - yaa ayyuha almu’minuun : O, believers
يا أيها الذين آمن – yaa ayyuha alladzina aamanu : O, people who have believed (atau O, people who had believe)
Nah terlihat bedanya kan. Pada kalimat pertama, kata-katanya netral saja, tidak ada keterangan waktu. Sedangkan pada kalimat kedua, kata kerja “percaya” itu telah selesai dengan sempurna (perfect tense).
Lalu apa pointnya Mas? Oke… yang ingin saya sampaikan adalah bahwa, penerjemahan bahasa Arab ke bahasa Indonesia, terkadang menyebabkan beberapa keterangan tambahan dalam bahasa Aslinya menjadi hilang dalam bahasa kita. Lihat dua kalimat diatas. Dua-duanya diterjemahkan menjadi kalimat yang persis sama dalam bahasa Indonesia. Ya, memang begitu. Tidak ada satu bahasapun didunia ini yang bisa diterjemahkan yang kompatibel 100%, pasti ada makna yang hilang atau berubah. Ini salah satu yang menjadi alasan, kenapa ada ulama yang tidak membolehkan Quran ditafsirkan. Dimana dikuatirkan, jika orang sudah tidak lagi membaca text asli (arabnya), dan hanya mengandalkan bahasa terjemahan, maka jelas maksud asli ayat bisa-bisa salah atau kurang lengkap bisa ditangkap oleh pembacanya.
Itu satu hal, kelemahan bahasa kita.
Lalu mungkin Anda akan berkata, hmm dalam bahasa Inggris ada padanan yang lebih kompatibel. Kalau begitu apa kelebihan bahasa Arab dibandingkan bahasa Inggris?
Oke saya akan kasih contoh mengenai ini.
Salah satu kelebihan bahasa Arab dibandingkan bahasa Inggris, antara lain, bahwa bahasa Arab tersusun dengan aturan yang sangat rigid (kokoh) sekali. Ibarat batu-bata yang tersusun rapi, ikatannya kuat sekali. Kalau satu bata hilang, kita masih bisa mereka bata yang hilang itu seperti apa. Satu kata dalam kalimat, saling terkait aturannya dengan kata yang sesudahnya dan kata yang sebelumnya. Saya pakai istilah forward correlation dan backward correlation. Ingat topik sebelumnya mengenai kaana, yang merafa’kan mubtada dan men-nashabkan khobar. Dengan pola misalkan spt ini:
AAA XXX YYY.
AAA adalah Kaana كان, maka dia mempengaruhi kata XXX dan YYY (mempengaruhi dua kata sekaligus). Dalam bahasa Inggris, sebetulnya kita temukan juga. Misalkan kata have/has.
I have spoken.
Kata have mempengaruhi kata speak, yang berubah menjadi spoken. Tapi kata have hanya mempengaruhi satu kata saja. Sedangkan dalam bahasa Arab bisa 2 kata sekaligus.
Dalam bahasa Indonesia,,, hehe… boro-boro… Kata spt ini (kata yang mempengaruhi kata lain) tidak ada ditemukan.
Contoh lain. Dalam bahasa Arab, kata depan (preposisi) atau disebut Huruf Jar, mempengaruhi kata setelahnya. Dalam bahasa Inggris tidak.
Rumah: بيت – baitun = a house
Dalam rumah: في بيتٍ : fii baitin
Dalam rumah : in a house
Lihat dalam bahasa Arab, kata asli baitun, begitu mendapat kata depan (didalam, fii) berubah jadi baitin. Dalam bahasa Inggris, tidak demikian, house tetap saja house (bukan menjadi housi atau housen), sehingga dibaca “in a house”, bukan “in a housen” layaknya bahasa Arab.
Apa manfaatnya ini? Kalau kita bayangkan, kata في - fi cetakannya agak buram, yang jelas hanya بيتٍ – baitin, maka kita tahu, pastilah kata yang hilang, atau cetakannya kurang jelas itu jenisnya kata depan, karena rumah disitu tertulis baitin (bukan baitun). Artinya korelasi dan sifat saling terkait antara satu kata dengan kata lainnya dalam bahasa Arab sangatlah massif (kokoh). Ini yang menyebabkan, tidak sembarangan bisa mengubah-ubah kalimat-kalimat dalam Al-Quran. Diganti satu kata (misalkan niatnya memalsukan), maka bagi yang mengerti kaidah tata bahasa Arab akan segera tahu, bahwa ada keanehan. Dibuang satu kata saja, akan terlihat jelas, sangking kokohnya keterkaitan antara satu kata dengan kata lainnya dalam bahasa Arab.
Masih banyak lagi contoh-contoh tentang ini. Seperti huruf LAM nahi-jenis لا , yaitu LAM yang diikuti kata benda (isim) yang bersifat umum dengan harokat akhir fathah (bukan fathatain), maka pasti ada prediket (khobar) yang kadang dibuang. Contohnya:
No doubt (tidak ada keraguan), dalam bahasa Arabnya: لا ريب - Laa raiba.
Kata Laa dan Raiba saling massif (kokoh) keterkaitannya, dimana dalam hukum LAM Nahi Jenis ini mengatakan bahwa ada prediket yang dibuang, yaitu maujuudun, sehingga makna dari Laa Raiba itu adalah
Laa Raiba Maujudun = Tidak ada keraguan (yang wujud)
Atau
No doubt (that exists).
Kata-kata “that exist” itu sudah otomatis saja ada dalam pengertian bahasa Arab. Sehingga kata yang singkat Laa Raiba, tapi pengertiannya utuh. Beda dengan bahasa Inggris atau bahasa Indonesia, kata “tidak ada keraguan”, keraguan apa? Atau, keraguan seperti apa? Ini belumlah jelas.
Kehebatan ke tiga.
Menurut saya kehebatan ke tiga bahasa Arab dibandingkan dengan bahasa Inggris dan (apalagi) dengan bahasa kita adalah: bahwa bahasa Arab, ringkas tapi maknanya komplit. Mengapa? Ambil contoh kasus kata kerja dalam bahasa Arab. Ajaib, kata kerja dalam bahasa Arab sudah tercakup pelaku di dalammnya.
Contoh: قرأت - qora’tu (satu kata)
Dalam bahasa Indonesia = Saya telah membaca (tiga kata)
Dalam bahasa Inggris = I have read (tiga kata)
Contoh lain: سأقرأ – sa-aqra-u (satu kata)
Dalam bahasa Indonesia = Saya akan membaca (tiga kata)
Dalam bahasa Inggris = I will read (tiga kata)
Apa hebatnya? Lihat contoh-contoh diatas. Dalam bahasa Arab, satu kata kerja sudah melekat dua keterangan tambahan langsung:
- siapa yang melakukan
- kapan dilakukan
Bayangkan alangkah ringkas dan kompaknya bahasa Arab. Cukup dengan satu kata mengandung makna yang lengkap. Jelaslah buku terjemahan bahasa Arab ke bahasa Inggris atau bahasa Indonesia biasanya akan jauh lebih tebal.
Dan masih banyak lagi bedanya, dimana dengan mengkaji perbedaan-perbedaan tersebut, kita bisa tambah yakin, bahwa dengan kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh bahasa Arab, tepat sekali bahasa ini dipilihkan sebagai bahasa kitab Firman Allah yang terakhir (Al-Quran). Last but not least, bahasa Arab itu lebih mudah untuk dihafal. Karena susunannya bisa dibuat berima atau bersajak, maka kalimat-kalimatnya mudah untuk dihafal. Ingat kembali topik lalu, kata-kata bahasa Arab, kadang disusun dengan akar kata yang sama, tapi mendapat tambahan huruf sehingga artinya berbeda, tapi masih ada kaitan. Seperti janna (tertutup), majnun = orang gila (tertutup akalnya), jannah = syurga (tertutup dari orang kafir) , junnah = benteng (tertutup dari musuh), dsb. Keterkaitan itu membuat kosa-katanya lebih mudah untuk dihafal.
Seperti telah disebutkan juga di topik lalu, contoh kata ra'a : melihat, maka mar'ah = wanita (tempat jatuhnya (tertujunya) penglihatan), dsb. Juga bahasa Arab ada wazan-wazan (timbangan, pola, atau pattern) yang jika hafal akan lebih lebih memudahkan lagi untuk menghafalnya. Seperti, kataba = menulis, maktab = meja (tempat menulis), kaatib = penulis/pengarang (orang yang menulis), dll.
Allah SWT, berfirman:
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ
Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quraan untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? Al-Qomar 17,22,32,40
Perhatikan kata-kata li-dzikri, diterjemahkan sebagai untuk pelajaran. Dzikri dari akar kata dzakara, arti asalnya mengingat. Sehingga bisa dikatakan, telah dimudahkan Al-Quran itu untuk diingat.
Allah SWT akan menjaga keaslian Al-Quran itu, dengan cara dia mudah untuk dihafal. Tidak ada satupun buku didunia ini yang mampu dihafal oleh orang ribuan, bahkan jutaan orang, yang panjang pendeknya, titik komanya, bisa dihafal, tanpa salah sedikitpun. Subhanallah, wal-hamdulillah, waLLAHu Akbar.
Tuesday, October 30, 2007
Saturday, October 27, 2007
The First Lady of the US, Laura Bush, Visits Kuwait
It was Tuesday, Oct 23 when I received a text message stating that a meeting I was to attend the following day was canceled because Laura Bush was to visit the US embassy in Kuwait. That was the first intimation I received that the First Lady was coming for a visit. The following day when I was having a previously scheduled lunch with another Fulbrighter and a past Fulbrighter to Kuwait who remained around after her Fulbright to work at the AUK (the American University in Kuwait), the AUK employee received a phone call from the cultural attaché at the embassy, who is in charge of overseeing the Fulbrighter program, inviting her and the Fulbrighters to come to a meeting that afternoon to a meeting that Laura Bush was to attend. It was 12:30 pm and we were told to show up at 3:00 pm at the venue. There was a bit of excitement amongst us that we would be meeting the First Lady and speculation as to whether we would be personally introduced to her. But we were still left in the dark as to the purpose and nature of the meeting.
After lunch I went home and changed into something smarter looking; though suit and tie wasn’t required. I then met up with the other Fulbrighters and AUK employee at AUK at 2:30 pm. We drove to the venue which was located in an area of Kuwait called Jabriya and held in a building belonging to the Kuwait Education Ministry. We arrived at 3 pm and were among the first to enter the auditorium.
It was quite a spectacle in itself to see the preparations that went into securing the facility. By chance I had just watched a portion of a documentary on the National Geographic Channel days before about the preparations that the Secret Service make to secure a facility where the president is to make an appearance. The documentary featured the operation of securing a covered arena at Louisiana State University where President George W. Bush gave a commencement speech. I was surprised the Secret Service would allow National Geographic the chance to detail their security procedures to the degree that they did. When I attended the meeting with the First Lady, I noted many similarities between the security that went into protecting her husband and her.
After we entered the doors the security was completely handled by the Secret Service that had accompanied the First Lady in her Middle East tour. The metal detector looked just like the one in the documentary that travels with the Secret Service. We then walked into the relatively small auditorium and grabbed some excellent seats near the front and center. Inside, positioned around the stage, there were more Secret Service agents monitoring the crowd coming in. But one thing that surprised me was the lack of a guest list of approved attendees. Anyone who walked in off the street could have entered the venue. Most of those attending seemed to be Kuwaiti of a liberal persuasion and some Americans. There were a handful of the fully veiled women. I wonder what must be the thoughts of the First Lady and the Americans traveling with her about the women wearing headscarves and some face veils. This was Laura Bushes second visit to Kuwait, her first being with her father-in-law George Bush Sr. in 1993.
We had to wait some time until the program started. Although we arrived at 3 pm, the program didn’t start until 4 pm. But then the auditorium quieted down as the First Lady entered the auditorium with the Education Minister, Nouriya Al-Sabeeh who is the only female minister in the government. They first went and sat down in the center front row. One had to have been there to experience the thirsty hound of press photographers and cameramen who were busy craning for the perfect shot. They certainly seemed to be the most excited group of people in the auditorium at the presence of the First Lady, but I suppose that is due to the dependence of their salaries on these types of occasions. I felt it to be such a waste of resources to have what seemed to be about the 20 press photographers and cameramen taking repetitive shots and footage. I wonder if it would be possible to choose a few photographers and cameramen at these official occasions and distribute the photos and footage to whoever desires.
But as to the nature of the meeting, we were still uninformed. I thought surely the First Lady who had traveled so far to Kuwait from the US on a Mid East tour with what appeared to consist of a small plane load of people including aids and Secret Service agents at significant expense would surely have something important to say. But the meeting was not what I expected since it was not intended to be a forum for her to speak. Instead the director of the Kuwait chapter of AMIDEAST (America Mid-East Educational and Training Services Inc.) hosted the event which focused on the importance of English language education and the opportunities provided by new English language scholarships from the US Department of State. The director, an American woman, first went up to the podium and began the presentation. She then spoke about the various opportunities offered by AMIDEAST to Kuwaiti high school students studying English and the effect of their experiences traveling to the US. It was an excellent example of an exercise in soft power and the lustrous attraction the US still maintains in the eyes of the Arabs. For after the director’s introduction, she invited 3 Kuwaiti high school students one after the other to the stage to read what they wrote about their experiences.
There seemed to include some editing of their work, which was expected, so that they all thanked the US Dept of State at the beginning of their speeches for the opportunity to study English and visit the US, but there was still a refreshing quality of originality that gleamed from their happy hearts as they spoke about the impact of the program in terms of helping them to learn how to express themselves, opening their eyes to America and the educational opportunities it offered, and the joy they had in learning English.
After their speeches it came time to call the First Lady to the stage along with the Education Minister. Laura Bush appeared to me as she did in television. The two Secret Service agents stationed by the stage were constantly searching the crowds with their expressionless faces for anything out of the ordinary just as it was shown in the National Geographic documentary. The Education Minister introduced Mrs. Bush with an official statement of welcome and hospitality in Arabic that was translated into English. Afterwards Mrs. Bush spoke for a short while about the MEPI (Middle East Partnership Initiative) program and fostering democratic values through English Education. She also included a blurb about breast cancer awareness which was the purpose of her trip in other countries that she visited. Apparently, Kuwait had not signed onto the US-Middle East partnership for breast cancer awareness and research and so she focused mostly on the importance of education. Yet still, she had not spoken more than 15 minutes before returning to her seat and allowing one more Kuwaiti student to recount their experience learning English. Afterwards, she left the auditorium to depart, but the presentation hosted by AMIDEAST was still to continue. Seeing though that it was now late in the afternoon, around 4:45 pm, we departed as well. Yet we couldn’t leave immediately as per the security regulations the First Lady had to leave first before we could. We loitered in the welcome area with others until we could leave at 5 pm. I saw the First Lady’s entourage leaving the area which included two limousines, some black SUVs, and one SUV with tall antennas perched on the roof of the car the use of which I could only guess.
I then returned home by 5:30 pm about 3 hours later from when I left. Unfortunately I had to skip the Arabic lesson I intended to have that evening. Was it worth the 3 hours to go see the First Lady and hear her speak for only 15 minutes? Probably not, but since this was my first time to these kinds of official events I can say it was worth the experience which leaves me sufficiently satisfied from wanting to attend a similar event in the future.
After lunch I went home and changed into something smarter looking; though suit and tie wasn’t required. I then met up with the other Fulbrighters and AUK employee at AUK at 2:30 pm. We drove to the venue which was located in an area of Kuwait called Jabriya and held in a building belonging to the Kuwait Education Ministry. We arrived at 3 pm and were among the first to enter the auditorium.
It was quite a spectacle in itself to see the preparations that went into securing the facility. By chance I had just watched a portion of a documentary on the National Geographic Channel days before about the preparations that the Secret Service make to secure a facility where the president is to make an appearance. The documentary featured the operation of securing a covered arena at Louisiana State University where President George W. Bush gave a commencement speech. I was surprised the Secret Service would allow National Geographic the chance to detail their security procedures to the degree that they did. When I attended the meeting with the First Lady, I noted many similarities between the security that went into protecting her husband and her.
After we entered the doors the security was completely handled by the Secret Service that had accompanied the First Lady in her Middle East tour. The metal detector looked just like the one in the documentary that travels with the Secret Service. We then walked into the relatively small auditorium and grabbed some excellent seats near the front and center. Inside, positioned around the stage, there were more Secret Service agents monitoring the crowd coming in. But one thing that surprised me was the lack of a guest list of approved attendees. Anyone who walked in off the street could have entered the venue. Most of those attending seemed to be Kuwaiti of a liberal persuasion and some Americans. There were a handful of the fully veiled women. I wonder what must be the thoughts of the First Lady and the Americans traveling with her about the women wearing headscarves and some face veils. This was Laura Bushes second visit to Kuwait, her first being with her father-in-law George Bush Sr. in 1993.
We had to wait some time until the program started. Although we arrived at 3 pm, the program didn’t start until 4 pm. But then the auditorium quieted down as the First Lady entered the auditorium with the Education Minister, Nouriya Al-Sabeeh who is the only female minister in the government. They first went and sat down in the center front row. One had to have been there to experience the thirsty hound of press photographers and cameramen who were busy craning for the perfect shot. They certainly seemed to be the most excited group of people in the auditorium at the presence of the First Lady, but I suppose that is due to the dependence of their salaries on these types of occasions. I felt it to be such a waste of resources to have what seemed to be about the 20 press photographers and cameramen taking repetitive shots and footage. I wonder if it would be possible to choose a few photographers and cameramen at these official occasions and distribute the photos and footage to whoever desires.
But as to the nature of the meeting, we were still uninformed. I thought surely the First Lady who had traveled so far to Kuwait from the US on a Mid East tour with what appeared to consist of a small plane load of people including aids and Secret Service agents at significant expense would surely have something important to say. But the meeting was not what I expected since it was not intended to be a forum for her to speak. Instead the director of the Kuwait chapter of AMIDEAST (America Mid-East Educational and Training Services Inc.) hosted the event which focused on the importance of English language education and the opportunities provided by new English language scholarships from the US Department of State. The director, an American woman, first went up to the podium and began the presentation. She then spoke about the various opportunities offered by AMIDEAST to Kuwaiti high school students studying English and the effect of their experiences traveling to the US. It was an excellent example of an exercise in soft power and the lustrous attraction the US still maintains in the eyes of the Arabs. For after the director’s introduction, she invited 3 Kuwaiti high school students one after the other to the stage to read what they wrote about their experiences.
There seemed to include some editing of their work, which was expected, so that they all thanked the US Dept of State at the beginning of their speeches for the opportunity to study English and visit the US, but there was still a refreshing quality of originality that gleamed from their happy hearts as they spoke about the impact of the program in terms of helping them to learn how to express themselves, opening their eyes to America and the educational opportunities it offered, and the joy they had in learning English.
After their speeches it came time to call the First Lady to the stage along with the Education Minister. Laura Bush appeared to me as she did in television. The two Secret Service agents stationed by the stage were constantly searching the crowds with their expressionless faces for anything out of the ordinary just as it was shown in the National Geographic documentary. The Education Minister introduced Mrs. Bush with an official statement of welcome and hospitality in Arabic that was translated into English. Afterwards Mrs. Bush spoke for a short while about the MEPI (Middle East Partnership Initiative) program and fostering democratic values through English Education. She also included a blurb about breast cancer awareness which was the purpose of her trip in other countries that she visited. Apparently, Kuwait had not signed onto the US-Middle East partnership for breast cancer awareness and research and so she focused mostly on the importance of education. Yet still, she had not spoken more than 15 minutes before returning to her seat and allowing one more Kuwaiti student to recount their experience learning English. Afterwards, she left the auditorium to depart, but the presentation hosted by AMIDEAST was still to continue. Seeing though that it was now late in the afternoon, around 4:45 pm, we departed as well. Yet we couldn’t leave immediately as per the security regulations the First Lady had to leave first before we could. We loitered in the welcome area with others until we could leave at 5 pm. I saw the First Lady’s entourage leaving the area which included two limousines, some black SUVs, and one SUV with tall antennas perched on the roof of the car the use of which I could only guess.
I then returned home by 5:30 pm about 3 hours later from when I left. Unfortunately I had to skip the Arabic lesson I intended to have that evening. Was it worth the 3 hours to go see the First Lady and hear her speak for only 15 minutes? Probably not, but since this was my first time to these kinds of official events I can say it was worth the experience which leaves me sufficiently satisfied from wanting to attend a similar event in the future.
Friday, October 26, 2007
Topik 52: Latihan Surat Al-Ikhlas ayat 4, Fungsi Kaana
Bismillahirrahmanirrahim.
Para pembaca yang dirahmati Allah. Kita akan menyelesaikan, latihan ayat 4 ini. Tapi sebelumnya saya kasih pertanyaan sedikit. Di topik 50, kita sudah terjemahkan ayat 4, yaitu:
و لم يكن له كفوا أحد - wa lam yakun la hu kufuwan ahad
wa= dan
lam= tidak
yakun= adalah (Dia)
la hu = bagi Dia
kufuwan = yang setara
ahad = seseorang
Nah lalu saya nerjemahin begini:
Dan adalah tidak seseorang(pun) yang setara bagi Dia.
Atau jika hendak diperhalus, kata adalah bisa dibuang (baca penjelasannya di topik 51), sehingga bisa menjadi:
Dan tidak seseorang(pun) yang setara bagi Dia.
Loh mas bukannya kalau mau urut mestinya terjemahannya:
Dan tidak adalah bagi Dia yang setara seorang(pun).
Saya tidak terjemahkan demikian. Kenapa? Karena kita akan melihat tugas kaana. Bagaimana tugas kaana itu? Nih saya kasih istilah yang mungkin agak teknis dikit ya... Ok... Siap...?
Tugas Kaana
Kaana bertugas:
- Me-rafa'kan mubtada
- Me-nashab-kan khobar
Weh... weh... kalau mubtada dan khobar rasanya kite-kite sudah pernah dengar deh di topik-topik yang lalu. Oke... saya lagi baik hati. Saya ulangi sedikit ya. Kalau ambil contoh: Zaid ganteng زيدٌ جميلٌ - zaiduun jamiilun. Perhatikan Zaidun adalah mubtada (subjek), dan Jamiilun adalah khobar (prediket). Perhatikan dalam kondisi normal maka Zaid adalah rofa' (yaitu harokat akhir dhommah), sehingga dibaca Zaidun, bukan Zaidan, atau Zaidin. Dan dalam kondisi normal khobar juga rofa', maka dibaca Jamiilun.
Jadi ingat saja, rofa' atau marfu' itu = dhommah atau dhommatain. ُ atau ٌ .
Nah sekarang kalau kita lihat tugas nya kaana itu menashabkan khobar.
Ingat, nahsab = fathah atau fathatain. َ atau ً .
Sehingga kalau kita terapkan:
زيدٌ جميلٌ - zaiduun jamiilun : Zaid ganteng
Jika kita tambahkan kaana didepannya menjadi:
كان زيدٌ جميلاً - kaana zaidun jamiilan : (adalah) Zaid ganteng.
Oh ya, kalau suatu kata benda (isim), jika bersifat nakiroh (tidak ada al), maka ada tambahan alif, sehingga ditulis:
جميلاً bukan جميلً .
Nah kira-kira kita sekarang bisa membayangkan, bahwa kalaupun setelah kaana ada kata beda (isim) yang terbalik, maka metode penerjemahannya sama. Artinya dari kondisi apakah dia nashab atau rafa' kita bisa tahu mana subjek dan prediketnya.
Anggaplah saya (agak) salah, tertukar menuliskan:
كان جميلاً زيدٌ - kaana jamiilan zaidun
Karena kita tahu bahwa yang jadi mubtada (subject) adalah zaidun, maka kita menerjemahkannya:
(adalah) Zaid ganteng,
bukan
(adalah) Ganteng zaid.
Demikian juga dalam ayat 4 surat Al-Ikhlas ini, kita bisa lihat bahwa yang menjadi mubtada adalah احدٌ - ahadun : seorang(pun). Dan yang menjadi khobarnya adalah كفوًا - kufuwan (karena harokatnya fathatain setelah kaana).
Oleh karena itu ayat ini kita terjemahkan:
و لم يكن له كفوا أحد - wa lam yakun la hu kufuwan ahad
Dan tidak (adalah) [mubtada=ahadun] [khobar=kufuwan] [pelengkap=lahu].
Dan tidak (adalah) [seseorang(pun)] [yang serupa] [bagi Dia].
Semoga menjadi jelas ya. Insya Allah.... Alhamdulillah, akhirnya selesai kita bahas latihan surat Al-Ikhlas ini. Kita akan ketemau lagi minggu depan.
Para pembaca yang dirahmati Allah. Kita akan menyelesaikan, latihan ayat 4 ini. Tapi sebelumnya saya kasih pertanyaan sedikit. Di topik 50, kita sudah terjemahkan ayat 4, yaitu:
و لم يكن له كفوا أحد - wa lam yakun la hu kufuwan ahad
wa= dan
lam= tidak
yakun= adalah (Dia)
la hu = bagi Dia
kufuwan = yang setara
ahad = seseorang
Nah lalu saya nerjemahin begini:
Dan adalah tidak seseorang(pun) yang setara bagi Dia.
Atau jika hendak diperhalus, kata adalah bisa dibuang (baca penjelasannya di topik 51), sehingga bisa menjadi:
Dan tidak seseorang(pun) yang setara bagi Dia.
Loh mas bukannya kalau mau urut mestinya terjemahannya:
Dan tidak adalah bagi Dia yang setara seorang(pun).
Saya tidak terjemahkan demikian. Kenapa? Karena kita akan melihat tugas kaana. Bagaimana tugas kaana itu? Nih saya kasih istilah yang mungkin agak teknis dikit ya... Ok... Siap...?
Tugas Kaana
Kaana bertugas:
- Me-rafa'kan mubtada
- Me-nashab-kan khobar
Weh... weh... kalau mubtada dan khobar rasanya kite-kite sudah pernah dengar deh di topik-topik yang lalu. Oke... saya lagi baik hati. Saya ulangi sedikit ya. Kalau ambil contoh: Zaid ganteng زيدٌ جميلٌ - zaiduun jamiilun. Perhatikan Zaidun adalah mubtada (subjek), dan Jamiilun adalah khobar (prediket). Perhatikan dalam kondisi normal maka Zaid adalah rofa' (yaitu harokat akhir dhommah), sehingga dibaca Zaidun, bukan Zaidan, atau Zaidin. Dan dalam kondisi normal khobar juga rofa', maka dibaca Jamiilun.
Jadi ingat saja, rofa' atau marfu' itu = dhommah atau dhommatain. ُ atau ٌ .
Nah sekarang kalau kita lihat tugas nya kaana itu menashabkan khobar.
Ingat, nahsab = fathah atau fathatain. َ atau ً .
Sehingga kalau kita terapkan:
زيدٌ جميلٌ - zaiduun jamiilun : Zaid ganteng
Jika kita tambahkan kaana didepannya menjadi:
كان زيدٌ جميلاً - kaana zaidun jamiilan : (adalah) Zaid ganteng.
Oh ya, kalau suatu kata benda (isim), jika bersifat nakiroh (tidak ada al), maka ada tambahan alif, sehingga ditulis:
جميلاً bukan جميلً .
Nah kira-kira kita sekarang bisa membayangkan, bahwa kalaupun setelah kaana ada kata beda (isim) yang terbalik, maka metode penerjemahannya sama. Artinya dari kondisi apakah dia nashab atau rafa' kita bisa tahu mana subjek dan prediketnya.
Anggaplah saya (agak) salah, tertukar menuliskan:
كان جميلاً زيدٌ - kaana jamiilan zaidun
Karena kita tahu bahwa yang jadi mubtada (subject) adalah zaidun, maka kita menerjemahkannya:
(adalah) Zaid ganteng,
bukan
(adalah) Ganteng zaid.
Demikian juga dalam ayat 4 surat Al-Ikhlas ini, kita bisa lihat bahwa yang menjadi mubtada adalah احدٌ - ahadun : seorang(pun). Dan yang menjadi khobarnya adalah كفوًا - kufuwan (karena harokatnya fathatain setelah kaana).
Oleh karena itu ayat ini kita terjemahkan:
و لم يكن له كفوا أحد - wa lam yakun la hu kufuwan ahad
Dan tidak (adalah) [mubtada=ahadun] [khobar=kufuwan] [pelengkap=lahu].
Dan tidak (adalah) [seseorang(pun)] [yang serupa] [bagi Dia].
Semoga menjadi jelas ya. Insya Allah.... Alhamdulillah, akhirnya selesai kita bahas latihan surat Al-Ikhlas ini. Kita akan ketemau lagi minggu depan.
Topik 51: Makna Kaana
Bismillahirrahmanirrahim.
Pembaca yang dirahmati Allah SWT, kita masih membahas tentang Kaana. Kaana ini karena agak unik, maka kita perlu membahasnya, agak sedikit panjang ya... Gpp kan? Hehe...
Oke... Ingat kaana, tentu Anda ingat dengan "Kun Fayakun". Ya saya ingat sekali waktu kecil sering dikasih tahu orang-orang tua: "Apa yang tidak mungkin bagi Allah. Jika Dia ingin berbuat sesuatu, Dia tinggal berkata: Kun كن - jadilah, Fayakun فيكن - maka jadilah ia".
Nah, kun كن itu adalah bentuk kata kerja perintah (fi'il amr) dari كان sedangkan fayakun itu asalnya adalah fa yakuunu ف + يكون . Kenapa waw nya hilang, menjadi fayakun فيكن saja? Ini nanti akan dibahas pada Topik : Kalimat Syarat dan Jawab.
Oke kita tinggalkan dulu kun fayakun... Kalau ada waktu kita akan singgung lagi.
Sekarang kita masuk membahas, apa saja makna kaana كان. Oke kita akan lihat, dan bahas di topik ini. Sedangkan tugas kaana, akan kita bahas di topik 52.
Makna Kaana
Kana itu ada 3 macam maknanya, tergantung konteks. Apa saja itu?
1. Kaana berarti adalah/atau tidak terjemahkan (is atau was dalam bahasa Inggriss)
2. Kanaa bisa berarti menjadi (to become)
3. Kanaa bisa berarti selalu
Baiklah kita bahas satu-satu...
1. Kaana bermakna adalah. Contohnya begini.
Zaid was handsome (Zaid --adalah-- ganteng). Ada 2 alternatif:
زيد جميل - Zaidun Jamiilun
كان زيد جميلاً - kaana Zaidun Jamiilan
Dua-duanya bisa dipakai. Kalimat pertama menjelaskan bahwa Zaid itu ganteng. Sedangkan kalimat kedua menjelaskan bahwa (dulu) Zaid itu ganteng (sekarang mungkin ganteng mungkin kurang ganteng).
Oh ya, kadang adalah itu tidak enak secara bahasa Indonesia, makanya kalau kaana dalam arti adalah ini, biasanya tidak diterjemahkan.
2. Kaana bermakna menjadi
Contohnya:
محمدٌ معلمٌ - muhammadun mu'allimun : Muhammad seorang guru
كان محمدٌ معلماً - kaana muhammadun mu'alliman : Muhammad telah menjadi seorang guru
يكون محمد معلماً - yakuunu muhammadun mu'alliman: Muhammad (sedang) menjadi seorang guru
3. Kaana bermakna senantiasa/selalu
Contohnya:
كان الله عليماً حكيماً - kaana Allahu 'aliiman hakiiman : Adalah (senantiasa) Allah (bersifat) Maha Mengetahui Maha Adil
Secara umum kaana itu berarti adalah. Tinggal dilihat apakah konteksnya KKL kaana, atau KKS yakuunu.
Insya Allah kita akan lanjutkan dengan sifat atau tugas Kaana ini, pada topik selanjutnya.
Pembaca yang dirahmati Allah SWT, kita masih membahas tentang Kaana. Kaana ini karena agak unik, maka kita perlu membahasnya, agak sedikit panjang ya... Gpp kan? Hehe...
Oke... Ingat kaana, tentu Anda ingat dengan "Kun Fayakun". Ya saya ingat sekali waktu kecil sering dikasih tahu orang-orang tua: "Apa yang tidak mungkin bagi Allah. Jika Dia ingin berbuat sesuatu, Dia tinggal berkata: Kun كن - jadilah, Fayakun فيكن - maka jadilah ia".
Nah, kun كن itu adalah bentuk kata kerja perintah (fi'il amr) dari كان sedangkan fayakun itu asalnya adalah fa yakuunu ف + يكون . Kenapa waw nya hilang, menjadi fayakun فيكن saja? Ini nanti akan dibahas pada Topik : Kalimat Syarat dan Jawab.
Oke kita tinggalkan dulu kun fayakun... Kalau ada waktu kita akan singgung lagi.
Sekarang kita masuk membahas, apa saja makna kaana كان. Oke kita akan lihat, dan bahas di topik ini. Sedangkan tugas kaana, akan kita bahas di topik 52.
Makna Kaana
Kana itu ada 3 macam maknanya, tergantung konteks. Apa saja itu?
1. Kaana berarti adalah/atau tidak terjemahkan (is atau was dalam bahasa Inggriss)
2. Kanaa bisa berarti menjadi (to become)
3. Kanaa bisa berarti selalu
Baiklah kita bahas satu-satu...
1. Kaana bermakna adalah. Contohnya begini.
Zaid was handsome (Zaid --adalah-- ganteng). Ada 2 alternatif:
زيد جميل - Zaidun Jamiilun
كان زيد جميلاً - kaana Zaidun Jamiilan
Dua-duanya bisa dipakai. Kalimat pertama menjelaskan bahwa Zaid itu ganteng. Sedangkan kalimat kedua menjelaskan bahwa (dulu) Zaid itu ganteng (sekarang mungkin ganteng mungkin kurang ganteng).
Oh ya, kadang adalah itu tidak enak secara bahasa Indonesia, makanya kalau kaana dalam arti adalah ini, biasanya tidak diterjemahkan.
2. Kaana bermakna menjadi
Contohnya:
محمدٌ معلمٌ - muhammadun mu'allimun : Muhammad seorang guru
كان محمدٌ معلماً - kaana muhammadun mu'alliman : Muhammad telah menjadi seorang guru
يكون محمد معلماً - yakuunu muhammadun mu'alliman: Muhammad (sedang) menjadi seorang guru
3. Kaana bermakna senantiasa/selalu
Contohnya:
كان الله عليماً حكيماً - kaana Allahu 'aliiman hakiiman : Adalah (senantiasa) Allah (bersifat) Maha Mengetahui Maha Adil
Secara umum kaana itu berarti adalah. Tinggal dilihat apakah konteksnya KKL kaana, atau KKS yakuunu.
Insya Allah kita akan lanjutkan dengan sifat atau tugas Kaana ini, pada topik selanjutnya.
Thursday, October 25, 2007
Topik 50: Latihan Surat Al-Ikhlas ayat 4
Bismillahirrahmanirrahim.
Pembaca yang dirahmati Allah SWT. Kita akan segera masuk ke ayat 4 surat Al-Ikhlas. Di ayat ini kita bertemu dengan sebuah kata kerja khusus yang disebut كان - kaana. Kita akan pelajari kenapa dia disebut khusus, dan apa fungsi kaana ini. Insya Allah.
Baiklah kita tuliskan ayat 4:
و لم يكن له كفوا أحد - wa lam yakun la hu kufuwan ahad
wa= dan
lam= tidak
yakun= adalah (Dia)
la hu = bagi Dia
kufuwan = yang setara
ahad = seseorang
Dan adalah tidak seseorang(pun) yang setara bagi Dia.
Kita belum bahas secara tuntas dulu. Nanti kita akan wrap-up dibagian akhir. Anda tentu sudah tahu tentang wa, lam, la hu dan ahad. Ahad artinya satu (orang), atau satu (sesuatu). Maka disini ahad saya terjemahkan satu (orang) = seseorang.
Fokus kita adalah kata يكن - yakun. Akar katanya adalah kaana كان. Kata kaana dan perubahan bentuknya (misal menjadi yakun) ini adalah spesial. Bahkan dalam buku-buku pelajaran tata-bahasa arab, pembahasan tentang kaana ini dibahas dalam satu sub-bab, atau bab tersendiri.
Mengapa dia spesial? Oke, mari saya bawakan sebuah perbandingan antara bahasa Inggriss dengan bahasa Arab.
Misalkan saya mengatakan: Umar seorang siswa. Dalam bahasa Arab saya mengatakan:
عمر طالب - umar thoolibun
Kalimat diatas adalah kalimat sempurna (artinya memberi faidah). Umar adalah seorang siswa. Masalahnya kita bisa bertanya lagi. "Jadi siswanya, dulu, atau sekarang". Nah disini mulai ada masalah. Informasi dari عمر طالب tidak memberikan indikasi waktu. Kenapa? Karena dalam bahasa Arab, sebuah kata benda tidak membawa indikasi waktu didalamnya. Perhatikan bahwa kata "Umar" adalah kata benda (isim), dan kata "thoolibun" juga kata benda.
Bagaimana dalam bahasa Inggris? Kita punya dua pilihan:
Umar was a student (Umar -dulu adalah seorang pelajar)
Umar is a student (Umar -sekarang adalah seorang pelajar)
Nah disini fungsi kaana muncul. Saya bisa mengatakan begini:
كان عمر طالباً - kaana Umar thooliban = Umar was a student
يكون عمر طالب - yakuunu Umar thooliban = Umar is a student
Ternyata dalam bahasa Arab salah satu cara memberikan indikasi waktu kepada sebuah kalimat berita adalah dengan menambahkan kaana atau yakuunu.
Ambil contoh dalam Al-Quran: doa Nabi Yunus sewaktu didalam perut ikan:
Laa ilaaha illa Anta: tidak ada Tuhan selain Engkau
Inni kuntu mina al-zholimiin:
إنى كنتُ من الظالمين - Indeed I was part of the wrongdoers = sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.
Lihat bahwa kuntu adalah kaana tapi untuk orang ke 1 laki-laki tunggal (Aku).
Insya Allah di topik 51 kita akan bahas salah satu fungsi kaana ini, yaitu me-rafa'kan mubtada menashab-kan khobar.
Pembaca yang dirahmati Allah SWT. Kita akan segera masuk ke ayat 4 surat Al-Ikhlas. Di ayat ini kita bertemu dengan sebuah kata kerja khusus yang disebut كان - kaana. Kita akan pelajari kenapa dia disebut khusus, dan apa fungsi kaana ini. Insya Allah.
Baiklah kita tuliskan ayat 4:
و لم يكن له كفوا أحد - wa lam yakun la hu kufuwan ahad
wa= dan
lam= tidak
yakun= adalah (Dia)
la hu = bagi Dia
kufuwan = yang setara
ahad = seseorang
Dan adalah tidak seseorang(pun) yang setara bagi Dia.
Kita belum bahas secara tuntas dulu. Nanti kita akan wrap-up dibagian akhir. Anda tentu sudah tahu tentang wa, lam, la hu dan ahad. Ahad artinya satu (orang), atau satu (sesuatu). Maka disini ahad saya terjemahkan satu (orang) = seseorang.
Fokus kita adalah kata يكن - yakun. Akar katanya adalah kaana كان. Kata kaana dan perubahan bentuknya (misal menjadi yakun) ini adalah spesial. Bahkan dalam buku-buku pelajaran tata-bahasa arab, pembahasan tentang kaana ini dibahas dalam satu sub-bab, atau bab tersendiri.
Mengapa dia spesial? Oke, mari saya bawakan sebuah perbandingan antara bahasa Inggriss dengan bahasa Arab.
Misalkan saya mengatakan: Umar seorang siswa. Dalam bahasa Arab saya mengatakan:
عمر طالب - umar thoolibun
Kalimat diatas adalah kalimat sempurna (artinya memberi faidah). Umar adalah seorang siswa. Masalahnya kita bisa bertanya lagi. "Jadi siswanya, dulu, atau sekarang". Nah disini mulai ada masalah. Informasi dari عمر طالب tidak memberikan indikasi waktu. Kenapa? Karena dalam bahasa Arab, sebuah kata benda tidak membawa indikasi waktu didalamnya. Perhatikan bahwa kata "Umar" adalah kata benda (isim), dan kata "thoolibun" juga kata benda.
Bagaimana dalam bahasa Inggris? Kita punya dua pilihan:
Umar was a student (Umar -dulu adalah seorang pelajar)
Umar is a student (Umar -sekarang adalah seorang pelajar)
Nah disini fungsi kaana muncul. Saya bisa mengatakan begini:
كان عمر طالباً - kaana Umar thooliban = Umar was a student
يكون عمر طالب - yakuunu Umar thooliban = Umar is a student
Ternyata dalam bahasa Arab salah satu cara memberikan indikasi waktu kepada sebuah kalimat berita adalah dengan menambahkan kaana atau yakuunu.
Ambil contoh dalam Al-Quran: doa Nabi Yunus sewaktu didalam perut ikan:
Laa ilaaha illa Anta: tidak ada Tuhan selain Engkau
Inni kuntu mina al-zholimiin:
إنى كنتُ من الظالمين - Indeed I was part of the wrongdoers = sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.
Lihat bahwa kuntu adalah kaana tapi untuk orang ke 1 laki-laki tunggal (Aku).
Insya Allah di topik 51 kita akan bahas salah satu fungsi kaana ini, yaitu me-rafa'kan mubtada menashab-kan khobar.
Tuesday, October 23, 2007
Bechar
I am currently in Bechar, the local capital, and plan to take the four-hour coach trip to Tabelbala tomorrow inshallah. After corresponding with a computing student here whose family is from Tabelbala for some time, I've finally met him in person; he seems a nice guy. Interestingly, when speaking Arabic, he calls Korandje "shelHiyya" - the name usually applied to the Berber dialects of the region and of southern Morocco. This suggests to me that this word may have become a generic term for non-Arabic local languages, in which case all statements about a given oasis around here speaking "Tachelhit" or "Shelha" need to be checked carefully.
Naturally, I've combed the local bookstores (there aren't too many, but there is a university here after all); I only found one book relating to the linguistics of this rough area, a work by Mohamed Bouali (2004) on the attitudes of people in the Berber-speaking oasis of Boussemghoun in western Algeria to a number of issues, including their own and other Algerian languages. Not very surprisingly, these seem closely aligned with moderate conservative opinion in Algeria generally, rather than showing any particularly strong similarity to the spectrum of attitudes common in Kabylie; his interviewees displayed pride in their language, but also identified fairly strongly with Arabic, and were more often than not hostile to the idea of teaching Berber ("Tachelhit") in school. The author reports that, unlike in some nearby oases, the Semghounis have consistently retained Berber and show no signs of shifting to Arabic as a home language. In Bechar itself, all talk I've heard has been in Arabic; the local accent is distinguished a lot of affricated t's (ts) and frequent use of "wah" for "yes", but is overall even closer to my own dialect then I was expecting.
Naturally, I've combed the local bookstores (there aren't too many, but there is a university here after all); I only found one book relating to the linguistics of this rough area, a work by Mohamed Bouali (2004) on the attitudes of people in the Berber-speaking oasis of Boussemghoun in western Algeria to a number of issues, including their own and other Algerian languages. Not very surprisingly, these seem closely aligned with moderate conservative opinion in Algeria generally, rather than showing any particularly strong similarity to the spectrum of attitudes common in Kabylie; his interviewees displayed pride in their language, but also identified fairly strongly with Arabic, and were more often than not hostile to the idea of teaching Berber ("Tachelhit") in school. The author reports that, unlike in some nearby oases, the Semghounis have consistently retained Berber and show no signs of shifting to Arabic as a home language. In Bechar itself, all talk I've heard has been in Arabic; the local accent is distinguished a lot of affricated t's (ts) and frequent use of "wah" for "yes", but is overall even closer to my own dialect then I was expecting.
Subscribe to:
Posts (Atom)